Latest Post


Tel Aviv (Rangkiangnagari) - Perdana Menteri  Israel  Benjamin Netanyahu mengunjungi jaringan terowongan di bawah kawasan kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem pada Sabtu (19/9) malam.

Netanyahu bersama istrinya, Sara, kemudian bergabung dengan puluhan ribu warga Israel dalam doa Selichot di Tembok Barat yang berdekatan dengan kompleks Al-Aqsa. Sejumlah menteri dan pejabat pemerintah Israel turut menghadiri doa tersebut.

Pada Minggu (20/9) dini hari, Netanyahu mengunggah video dan foto dari rangkaian kegiatan malam itu. Salah satu video menampilkan dirinya bersama Sara berada di dalam terowongan.

"Jadi mengharukan bisa menyentuh batu yang menjadi fondasi keberadaan kita. Kami berada di sini, sangat dekat dengan Tempat Mahakudus," kata Netanyahu seperti diberitakan  Middle East Eye.

"Kami berada di sini dan kami akan selalu berada di sini."

Pada hari Minggu, ratusan warga Israel memasuki kompleks Al-Aqsa. Kegubernuran Yerusalem di bawah Otoritas Palestina menyebut sekitar 800 orang memasuki kawasan tersebut sepanjang hari.

Pada Minggu malam, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir juga memasuki kompleks Al-Aqsa dengan pengawalan ketat polisi. Ia terekam berdoa bersama sejumlah warga Israel lainnya di dalam kompleks.

Aktivitas tersebut berlangsung di tengah pengetatan keamanan Israel di Kota Tua Yerusalem dan kawasan sekitar Al-Aqsa seiring dimulainya rangkaian hari raya Yahudi. Polisi dikerahkan dalam jumlah besar di kawasan itu

Kegubernuran Yerusalem menyebut pasukan Israel telah mengubah Kota Tua menjadi "barak militer" untuk mengamankan akses para pemukim ke kawasan sekitar Al-Aqsa.

Aktivitas serupa berlanjut pada Senin (21/9). Menurut Otoritas Palestina, lebih dari 400 orang memasuki kompleks Al-Aqsa pada pagi hari.

Kecaman Liga Muslim Dunia

Rangkaian acara tersebut mendapat kecaman dari Liga Muslim Dunia.

Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Muhammad Al-Issa dalam pernyataannya pada Senin mengecam tindakan provokatif yang memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia.

Ia mendesak masyarakat internasional menghentikan apa yang disebutnya sebagai pelanggaran berulang terhadap Masjid Al-Aqsa dan status quo hukum yang berlaku di sana.

Status quo merupakan pengaturan yang telah berlaku selama puluhan tahun mengenai akses dan pengelolaan kompleks Masjid Al-Aqsa.

Berdasarkan pengaturan tersebut, seluruh kawasan seluas 144 dunam atau 14,4 hektare diakui sebagai situs suci Islam. Wakaf Islam Yerusalem, lembaga keagamaan yang mengelola Masjid Al-Aqsa, bertanggung jawab atas akses, pengaturan ibadah, pemeliharaan, dan lingkungan di kompleks tersebut.

Namun, sejak Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967, peran Wakaf secara bertahap semakin terpinggirkan. Status quo tersebut juga terus terkikis melalui berbagai kebijakan, termasuk dengan mengizinkan warga Israel memasuki kompleks tersebut hampir setiap hari dan melakukan ibadah Yahudi di kawasan itu.(*01).


Kota Pariaman (Rangkiangnagari) - Air yang selama ini tampak sederhana di kawasan Masjid Raya Cubadak Mentawai, Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat bisa berubah menjadi denyut perekonomian masyarakat. Potensi itu mulai dibidik melalui rencana optimalisasi sumber air untuk mendukung pengembangan kolam ikan di lingkungan masjid.

Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., turun langsung meninjau kondisi lokasi sebagai bagian dari upaya melihat potensi tersebut secara nyata.

Yang menarik, gagasan ini tidak berhenti pada urusan membuat kolam ikan. Ada pesan lebih besar yang terbuka untuk keumatan. Aset kecil di sekitar masjid jangan dibiarkan menjadi potensi yang tidur.

Sumber air tersedia, lahan ada, dan kolam dapat dikembangkan. Tantangannya kini adalah bagaimana seluruh potensi itu dikelola secara profesional, berkelanjutan, transparan, dan benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Masjid pun didorong tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga ruang pemberdayaan. Muhajir melihat pengembangan kolam ikan dapat menjadi kegiatan produktif yang menghubungkan fungsi sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Hasil budidaya nantinya berpotensi mendukung kebutuhan masyarakat maupun kegiatan masjid. Sedangkan proses pengelolaannya dapat menjadi ruang belajar bagi generasi muda.

Namun, sumber air bukan sekedar soal mengalirkan air ke kolam. Juga pastikan ketersediaan dan keinginannya harus diperhitungkan sejak awal.

Di sisi lain, terkait kondisi lingkungan, kebutuhan udara, sistem pengaliran, jenis ikan, pakan dan pemeliharaan. Hingga pelaksanaan pemanfaatan hasil panen, harus dirancang agar program tidak berhenti sebagai proyek pada saat itu.

Peninjauan lapangan menjadi penting untuk memetakan kebutuhan dan tantangan teknis secara langsung. Muhajir menegaskan bahwa potensi yang ada di sekitar masjid harus mampu memberikan kebermanfaatan.

“Kita ingin aset dan potensi yang ada di sekitar masjid bisa memberikan manfaat. Masjid tentu fungsi utamanya adalah tempat ibadah. Di sisi lain masjid juga bisa menjadi pusat pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Gagasan tersebut sekaligus membuka peluang agar pemuda terlibat dalam pemeliharaan, pencatatan, pemasaran hingga pengembangan usaha berbasis budidaya ikan.

Jika dikelola secara serius, kolam sederhana itu dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat memelihara ikan.

Ia bisa menjadi ruang edukasi lingkungan bagi anak-anak, laboratorium kewirausahaan bagi pemuda, sekaligus kegiatan produktif bagi pengurus dan masyarakat. Dari satu sumber air, manfaatnya dapat mengalir ke banyak arah. Yakni ekonomi, pendidikan, sosial, dan penguatan aktivitas masjid.

Kegiatan ini bukanlah kolam besar-kecilnya, melainkan keberanian mengubah potensi menjadi manfaat. Udara yang mengalir di kawasan Masjid Raya Cubadak Mentawai sedang diarahkan untuk menghidupkan sesuatu yang lebih besar.

Kemandirian masyarakat menggerakan ekonomi. Jadi ketika sumber daya dikelola dengan amanah dan profesional, yang mengalir bukan hanya udara. Namun ada peluang, harapan, dan kebermanfaatan bagi umat.

 

Pelaksanaan literasi membangun kesiapan finansial menuju ibadah haji di Semen Padang 

Padang (Rangkiangnagari) - Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bersama PT Bank Nagari melalui Unit Usaha Syariah (UUS) dan PT Semen Padang menggelar Safari Haji BPKH bertajuk “Membangun Kesiapan Finansial Menuju Ibadah Haji” di Gedung Serbaguna PT Semen Padang, Kamis (17/9).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi dan edukasi haji, terutama mengenai pentingnya mempersiapkan ibadah haji sejak dini melalui perencanaan finansial yang matang. Safari Haji diikuti sekitar 200 pegawai Semen Padang Group dan dihadiri jajaran BPKH, Bank Nagari, PT Semen Padang, serta Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota Badan Pelaksana BPKH Harry Alexander, Direktur Keuangan PT Bank Nagari Roni Edrian, Kepala Unit Komunikasi PT Semen Padang Idris, S.Sos., Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat M. Rifki, Kepala Bidang Pelayanan Haji Yudi Hidayat, serta Deputi Bidang Penghimpunan BPKH Juni Supriyanto.

Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai ekosistem penyelenggaraan ibadah haji, mekanisme pendaftaran, pengelolaan dana haji oleh BPKH, nilai manfaat selama masa penantian, serta pentingnya kesiapan finansial dalam merencanakan perjalanan ke Tanah Suci.

Anggota Badan Pelaksana BPKH Harry Alexander mengatakan, persiapan haji memerlukan kesiapan menyeluruh, baik dari sisi spiritual maupun finansial. Oleh karena itu, masyarakat perlu mulai merencanakan ibadah haji sejak dini agar memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan kebutuhan keberangkatan.

“Ibadah haji adalah perjalanan yang membutuhkan kesiapan menyeluruh, baik secara spiritual maupun finansial. Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat, termasuk para pegawai Semen Padang Group, untuk mulai merencanakan ibadah haji sejak dini,” ujar Harry.

Menurutnya, menabung secara terencana, memahami mekanisme pendaftaran, serta mengetahui pengelolaan dana haji merupakan bagian penting dari persiapan menuju Baitullah.

Harry menjelaskan, dana setoran jemaah yang dikelola BPKH Ditempatkan dan diinvestasikan sesuai prinsip syariah untuk menghasilkan nilai manfaat selama masa tunggu. Nilai manfaat tersebut diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji sekaligus meningkatkan keterjangkauan biaya haji.

Untuk memperkuat transparansi, BPKH juga menyediakan layanan digital melalui BPKH Apps. Aplikasi tersebut antara lain menyediakan informasi saldo virtual account, pertumbuhan nilai manfaat, laporan kinerja pengelolaan dana haji, estimasi keberangkatan, hingga riwayat distribusi nilai manfaat.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Bank Nagari Roni Edrian mengatakan Bank Nagari melalui UUS terus memperkuat peran dalam memberikan akses layanan dan edukasi keuangan syariah kepada masyarakat yang memiliki niat menunaikan ibadah haji.

“Persiapan menuju ibadah haji merupakan proses yang perlu dilakukan secara terencana. Kami ingin hadir tidak hanya ketika masyarakat melakukan setoran atau pendaftaran haji, tetapi sejak tahap awal ketika niat tersebut mulai diwujudkan melalui perencanaan keuangan,” kata Roni.

Ia berharap sinergi Bank Nagari dengan BPKH dan PT Semen Padang dapat mendorong semakin banyak pegawai serta keluarga besar Semen Padang Group memiliki kesiapan finansial untuk menunaikan ibadah haji.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat M. Rifki menambahkan bahwa persiapan haji perlu dilakukan secara menyeluruh baik fisik, finansial dan spiritual. (**).

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.