Latest Post

 

Bachtul putra  Seorang  anggota PRRI


Surat Terbuka dari Putra Prajurit PRRI Kepada Bapak Prabowo Subianto

Oleh: Bachtul

Yang terhormat bapak Jendral (Purn) TNI Prabowo Subianto, sebenarnya sejak awal Oktober tahun 2025 lalu saya ingin menulis surat terbuka ini kepada bapak, tapi karena terlalu banyak pertimbangan, maka baru di bulan Februari ini saya menulisnya kepada bapak.

Yang terhormat bapak Prabowo Soebianto,

Sekitar bulan Agustus tahun 1987 saya mengikuti Penataran P4 pola 100 Jam yg diadakan Universitas Andalas untuk mahasiswa baru di Padang.

Saya diterima di Universitas Andalas sebagai Mahasiswa baru di Fakultas Teknik yang kalau itu masih berstatus program studi.

Sebagai mahasiswa baru yg baru pulang kampung, karena sejak kelas 5 SD sampai tamat SMA saya bersekolah di Cibinong Bogor, saya berusaha untuk berkenalan dan berteman  dengan kawan kawan baru sesama peserta Penataran P4 dan saling bercerita dan berbagi pengalaman pada saat saat jam istirahat .

Disaat cerita sampai kepada dimana mendaftar untuk melanjutkan pendidikan sebelum diterima di Universitas Andalas melalui jalur Sipenmaru, satu dua kawan tersebut menyampaikan jawabannya masing masing, ada yg di APDN dan ada yg menjawab di STAN dll.

Ketika saya menjawab ,bahwa saya mendaftar di AKABRI  maka , maka ada diantara kawan baru tersebut langsung spontan menyela dan mengatakan,  "urang awak (Minang) tidak akan bisa dapat posisi tinggi di jajaran tentara'" .Tidak akan ada sejarahnya urang awak yang akan sampai jadi Jendral bintang 4 " timpalnya lagi, dan segera diamini yang lain. 

Ketika saya tanya apa alasannya kalau urang Minang tidak akan bisa menyandang pangkat bintang 4, maka hampir serempak mereka mengatakan "Urang awak kan pemberontak ". "Urang awak kan PRRI" lalu dilanjutkan berbagai argumen lainnya.

Sebagai seorang putra Minang yang tidak dibesarkan di ranah Minang, sebelumnya saya tidak tahu bahwa ada pikiran seperti itu tertanam di dalam pikiran dan persepsi anak muda dan sebagian masyarakat yang hidup dan tinggal di ranah Minang.

Bisa jadi bukan hanya yang tinggal di ranah Minang, tapi juga pada orang yang tinggal di luar Sumatera Barat.

Tapi saya saja yang tidak tahu.

Pernyataan dari teman sesama mahasiswa baru Universitas Andalas tahun 1987 tersebut, yang mengatakan bahwa tidak ada orang Minang yang bisa jadi Jendral bintang 4 di Ketentaraan sejak saat itu terus teringat dalam pikiran saya. Dan walaupun sudah puluhan tahun pernyataan tersebut masih melekat dalam ingatan saya sampai saat ini.

Karena sejak pernyataan tersebut pertama kali saya dengar, saya terus mengamati dan mencermati Jendral Jendral bintang 4 di lingkungan TNI, maka memang sampai saat ini belum satupun Putra Minangkabau yang menjadi Jendral bintang 4.

Apakah betul karena sebab adanya PRRI?, belum tentu juga begitu, tapi adalah merupakan sebuah fakta yang sulit dibantah ,bahwa mmg ada stigma, persepsi atau bisa disebut juga "trauma" yang berkembang ditengah masyarakat terutama bagi yang hidup masa masa tersebut dan generasi yang lahir tidak lama setelah terjadinya peristiwa PRRI, bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya PRRI pada akhir tahun 50 an tersebut.

Pada tahun 2014 saya pernah diminta menjadi pembicara pada acara bedah buku "Jejak Sang Infanteri" Biografi 70 tahun  Letjen TNI (Purn) Muzani Syukur yang kala itu menjabat sebagai Komisaris Utama PT. Semen Padang.

Pada kesempatan itu saya sempat bertanya dari atas panggung kepada beliau, apakah ada perbedaan perlakuan terhadap Putra Minangkabau di TNI dan apakah belum adanya Putra Indonesia yang berasal dari Minangkabau menyandang pangkat Jendral bintang 4 karena terkait dengan peristiwa PRRI.

Langsung secara spontan pertanyaan saya tersebut dijawab oleh bapak Mayjend TNI (Purn) Mulchis Anwar teman seangkatan bapak Muzani Syukur di Akabri, bahwa tidak ada perbedaan perlakuan terhadap mereka di TNI dan diperlakukan sama dengan perwira perwira TNI yang lain, dan belum adanya Putra Indonesia yang berasal dari Minangkabau yang menyandang bintang 4 atau Jendral penuh tidak disebabkan karena adanya PRRI. Penjelasan bapak Mulchis Anwar tersebut diamini oleh bapak Muzani Syukur.

Terlepas apakah tidak adanya putra Indonesia asal Minangkabau, eh...maaf pak Prabowo, maksud saya , terlepas apakah BELUM adanya  putra Indonesia asal Minang yang menjadi Jendral bintang 4 di TNI adalah  karena terkait atau berkait dengan PRRI  apakah merupakan fakta atau persepsi belaka saja.

Generasi muda dan masyarakat luas harus tahu.

PRRI bukanlah pemberontakan orang Minang terhadap pemerintah Indonesia saat itu. PRRI bukanlah "pemberontakan" suku.

PRRI adalah gerakan Koreksi daerah terhadap pusat atau Pemerintah Pusat.

Tokoh tokoh PRRI dan Pra deklarasi PRRI , berasal dari berbagai daerah dan suku di Indonesia, baik Sipil maupun  Militer.

Ada Tokoh Tokoh yang berasal dari Sumatera Utara dan suku Batak seperti , Mantan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap, Kolonel Simbolon,  Kolonel Zulkifli Lubis tokoh intelejen Indonesia yang masih bersaudara dengan Jendral A.H Nasution dll.

Ada Kolonel Barlian dari Sumatera Selatan.

Dari Banten ada nama mantan Perdana Mentri Syafrudin Prawiranegara.

Dan dari Jawa ada nama Kasman Singodimedjo yang juga tercatat sebagai tokoh yang bergabung dengan PRRI.

Sementara itu dari  gerakan Koreksi daerah serupa di Sulawesi PERMESTA ada tokoh bangsa yang juga bergabung ,yaitu Kolonel Alex Kawilarang dan Letkol Ventje Sumual dll.

Dari nama nama tokoh yang ikut bergabung dengan PRRI sangat jelas dan terang bahwa PRRI maupun Permesta bukanlah gerakan atau pemberontakan satu suku tertentu saja, tapi benar benar merupakan koreksi berbagai daerah terhadap pusat.

Yang terhormat bapak Prabowo Subianto,

Saya tidak malu mengakui bahwa peristiwa PRRI pada awalnya memang menyisakan trauma bagi kami masyarakat Minangkabau. Dan Alhamdulillah makin lama memang makin menipis dan mulai terlupakan.

Paska PRRI terjadi gelombang merantau yang cukup masif dan banyak orang tua yang memberi nama anaknya dengan nama ke Jawa jawaan dan keBarat Baratan, mungkin khawatir kalau pakai nama bercorak Minangkabau akan menjadi handicap tersendiri dalam pergaulan tingkat Nasional. Sebut saja sebagai contoh ada orang tua di Minangkabau yang memberi nama anaknya James Hellyward , Irwan Prayitno, Doni Monardo, Andrinof. Dan ternyata cukup ampuh, karena nama nama yang sebut tersebut menjadi tokoh dan dikenal di tingkat nasional semuanya.

Saya sendiri tanpa saya sadari juga merasakan trauma tersebut, buktinya  ketika ada yang mengatakan puluhan tahun lalu bahwa putra Indonesia asal Minangkabau tidak akan pernah dipercaya jadi bintang 4 di Ketentaraan, langsung lekat dalam ingatan saya dan terus melekat sampai saat ini.

Dan ketika bapak Prabowo mengumumkan pengangkatan bapak LetjenTNI (Purn) Djamari Chaniago sebagai Menko Polkam kemudian diikuti dengan memberikan kenaikan pangkat kehormatan menjadi Jendral bintang 4 kepada beliau, saya menjadi orang yang paling lega dan bahagia, walau saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau.

Tapi setidaknya penganugerahan kenaikan pangkat Jendral bintang 4 kepada bapak Djamari Chaniago bisa membantah dan memupus persepsi dan trauma , bahwa putra Minangkabau karena peristiwa PRRI tak mungkin jadi Jendral bintang 4 di lingkungan TNI.

Dan tidak itu saja, ketika dulu di masa masa sekolah terjadi penggantian buku sejarah dengan buku terbitan terbaru, maka saya merasa deg degan kira kira apa yang tertulis tentang PRRI dalam buku sejarah baru tersebut.

Maka Halaman pertama yang saya baca  dari buku sejarah baru tersebut adalah halaman yang menceritakan tentang peristiwa PRRI.

Dan ternyata dari beberapa kali penggantian buku sejarah semasa saya sekolah (semasa orde baru),  isi nya biasa biasa saja dan tidak terkesan memojokkan atau melebih lebihkan .

Terus terang saya khawatir kalau peristiwa PRRI disamakan dengan RMS, Pemberontakan Kahar Muzakar ataupun dengan PKI.

Karena PRRI jelas berbeda dengan pemberontakan pemberontakan tersebut. PRRI ataupun PERMESTA adalah koreksi daerah terhadap pemerintah pusat. Dan

Menurut sejarawan Amerika Audrey Kahin dan Barbbara Silars Harvey, serta sejarawan yang juga tokoh bangsa Indonesia bapak Ahmad Syafii Maarif,  "PRRI adalah pemerintahan alternatif bukan Negara alternatif"

Jadi PRRI  bukanlah gerakan separatis dan bukan gerakan untuk mengganti ideologi negara.

PRRI justru mengkhawatirkan ideologi negara berubah menjadi komunis!!!

Seorang wartawan senior yang juga merupakan Komisaris sebuah BUMN ,entah iseng entah serius pernah mengatakan dalam sebuah diskusi di Group WA terkenal di Sumatera Barat bernama TOP 100, bahwa PRRI lahir karena kekecewaan tentara di daerah karena kesatuannya dilikuidasi.

Saya entah karena mmg mengalami trauma langsung bereaksi dan membantah dengan keras pernyataan dari sang komisaris tersebut.

Saya katakan PRRI lahir bukan karena kekecewaan tentara, tapi karena kekecewaan seluruh lapisan masyarakat di daerah terhadap pemerintahan saat itu. 

Buktinya seluruh lapisan masyarakat ikut bergabung dengan PRRI baik rakyat jelata, pelajar, Mahasiswa maupun tokoh tokoh politik dan Sipil di tingkat Nasional seperti M.Natsir, Mr .Assat,   Burhanudin Harahap,  Syafruddin Prawira Negara dll

Setidaknya ada 3 orang mantan Perdana Mentri Indonesia dan dua orang Presiden dari Pemerintahan Darurat Indonesia bergabung dengan PRRI apakah tidak bisa membuktikan bahwa PRRI bukan lahir karena kekecewaan tentara.

Lebih jauh saya katakan kepada komisaris BUMN tersebut, bahwa PRRI lahir paling tidak disebabkan dua hal penting , yaitu ketidakpuasan yang meluas di daerah daerah atas ketidakmerataan pembangunan dan jalannya Pemerintahan Pusat yang condong kekiri kirain, karena terlalu memberi tempat kepada PKI dalam pemerintahan dan politik. 

Kekhawatiran tokoh tokoh PRRI atas menguat dan membesaranya cengkraman PKI dalam politik dan pusat kekuasaan di Indonesia mgkin diabaikan dan tidak dihiraukan oleh pemerintah pusat terutama tokoh tokoh militer, sehingga berselang 7-8 tahun kemudian petinggi petinggi militer yg menjadi ujung tombak penumpasan dan pemadaman gerakan PRRI malah akhirnya harus membayar mahal dan menjadi korban keganasan PKI pada saat meletusnya  gerakan 30S/PKI.

Saya sampaikan lagi, kalau PRRI/Permesta lahir karena ketidakpuasan tentara karena kesatuannya dilikuidasi.

Lalu kenapa bapak Kolonel Alex Kawilarang yang tidak terkena imbas akibat likuidasi kesatuan di daerah, malah sengaja pulang dari Amerika Serikat sebagai Atase Militer hanya untuk bergabung dengan Permesta. Beliau kan tidak terdampak Likuidasi kesatuan.

Begitu juga orang tua saya yang saat itu berpangkat Kapten jebolan dari pendidikan opsir Divisi Banteng KDMST di Bukittingi angkatan pertama, satu angkatan dengan Mayjen TNI (Purn)  Durmawel Achmad,SH yang menjadi hakim ketua pada sidang Mahkamah Militer Luar Biasa, yang mengadili tokoh terkemuka PKI Dr.Soebandrio . Juga pulang kampung bergabung dengan PRRI padahal saat itu orang tua saya berdinas di Kodam Siliwangi, sehingga bisa dikatakan tidak terimbas karena adanya likuidasi kesatuan di daerah.

Dan orang tua saya tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa beliau bergabung dengan PRRI karena kekecewaan tentara karena likuidasi kesatuan kesatuan tentara di daerah.

Tapi beliau bergabung dengan PRRI karena mmg setuju dengan perjuangan PRRI ,yaitu pemerataan pembangunan dan Pembubaran PKI.

Tak pelak memang ketika orang tua saya minta dipulangkan ke kesatuan asalnya kepada atasan langsungnya bapak Mayor Soepardjo Rustam, atasan langsungnya merasa kaget dan setengah tidak percaya.

Dan akhirnya beliau dipulangkan ke kesatuannya dan setelah itu bergabung dengan PRRI.

Maaf pak Prabowo, saya jadi terlalu banyak cerita tentang PRRI,  padahal niat hati saya menulis surat ini adalah untuk mengucapkan terimakasih atas penganugerahan kenaikan pangkat jadi bintang 4 kepada bapak Djamari Chaniago. Mungkin mmg masih ada sisa trauma pada diri saya sebagai putra "pemberontak". Karena belasan tahun setelah peristiwa PRRI dan saya sendiri lahir dan hidup setelah masa PRRI, tapi saya masih mendengar seorang tokoh PKI yang bepengaruh di kampung saya mencemooh dan mengejek orang tua saya dengan mengatakan dalam bahasa Minang, "Dulu Iyo Inyo kapten, tapi kini Inyo tingga Kapitiang lai"

(Dulu iya dia Kapten, tapi kini dia tinggal kepiting lagi).

Jadi saya menceritakan PRRI disini bukan untuk menghidupkan perjuangan PRRI lagi, karena untuk saat ini perjuangan tersebut tidak relevan lagi.

Karena PKI sudah lama dibubarkan dan pemerataan pembangunan sudah dilakukan dengan serius sejak zaman Presiden Soeharto dilanjutkan oleh Presiden setelah itu, termasuk memindahkan Ibu Kota negara ke IKN yang mengakhiri stigma sentralisasi kekuasaan dan Pembangunan hanya di Pulau Jawa. Dan pada era bapak dengan program makan bergizi gratis (MBG) untuk seluruh anak Indonesia merata sampai ke pelosok pelosok negri dan tidak hanya di perkotaan.

Peristiwa PRRI  dan peristiwa lainnya harus diterima sebagai sebuah keniscayaan  perjalan yang harus dilalui sebagai sebuah bangsa.

Sebuah perjalanan yang menjadi pelajaran dan pengalaman berharga dalam upaya menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

Yang terhormat bapak Prabowo Subianto, 

Pemberian kenaikan pangkat kehormatan kepada bapak Letjen (Purn) Djamari Chaniago  menjadi Jendral bintang 4  tak pelak punya makna yang dalam khusus bagi masyarakat Minangkabau dan tentu juga bagi saya sendiri. 

Kenaikan pangkat yang bapak berikan kepada bapak Djamari Chaniago telah menggilas persepsi yang selama ini pernah hidup paling tidak pada sebagian masyarakat Minangkabau, bahwa hal tersebut disebabkan dan terkaitvkarena peristiwa PRRI.

Apa yang bapak lakukan telah mengakhiri itu semua.

Belum adanya putra Indonesia asal Minangkabau yang menjadi Jendral penuh bintang 4 hanya soal kesesuaian  waktu. Hanya soal Timing dan saat yang tepat dan sesuai.

Jadi bukan karena hal lain lain semisal PRRI dan lainnya.

Tutup botolnya sudah dibuka oleh pak Djamari Chaniago.

Yang terhormat bapak Prabowo Subianto,

Mengakhiri surat terbuka saya ini.

Saya mengucapkan terimakasih kepada bapak, yang telah memberikan kenaikan pangkat istimewa kepada bapak Letjen (Purn) Djamari Chaniago menjadi Jendral (Purn) Djamari Chaniago .

Mudah mudahan setelah ini ada putra Indonesia asal Minangkabau yang masih aktif dalam kedinasan di TNI bapak percayakan menjadi Jendral bintang 4, tentunya yang memenuhi kriteria dan mempunyai kapasitas dan kapabilitas untuk itu.

Sampai saat ini memang belum pernah tercatat dalam sejarah bangsa, ada putra Indonesia asal Minangkabau yang menyandang pangkat Jendral bintang 4 di Tentara Nasional Indonesia.

Satu satunya Jendral bintang 4 aktif yang pernah ada asal Minangkabau adalah bapak Prof ,Awaludin Jamin di Kepolisian Republik Indonesia.

Rasanya ada yang kurang dari surat saya ini, kalau pada kesempatan ini , saya  tidak mengucapkan Selamat kepada bapak Djamari Chaniago.

Maka pada kesempatan ini saya Ucapkan selamat Kepada bapak Djamari Chaniago, yang menjadi putra Minangkabau pertama menjadi Tentara dengan pangkat Jendral penuh bintang 4.

"Hebat pak Djamari, lah pensiun hampia 20 tahun, masih naiak pangkek, naiak jadi Jendral bintang ampek lo tu"

"Dan selamat Pulo untuak Urang Caniago sedunia, Caniago juo nan kaiyo nyo" hahahaha...

"Sabananyo suku Tanjung lebih dulu jadi bintang 4 di TNI, tapi Indak dari Minangkabau do, tapi dari Tapanuli, pak Jendral Feisal Tanjung, mantan Panglima ABRI"

Terakhir saya menyampaikan mohon maaf kepada bapak Prabowo Subianto , kenapa saya menyampaikan hal ini melalui Surat Terbuka.

Hal ini saya lakukan karena saya tak mungkin menyampaikannya secara langsung.

Mana mungkin putra pemberontak bisa bertemu langsung  dengan Presiden, bertemu adik Presiden saja pasti susah, hehehehe.

Maaf pak ,becanda....

Padang, Jumat 13 Februari 2026

Solsel (Rangkiangnagari) - Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Solok Selatan, Taufik Effendi, mengumpulkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupate n Solok Selatan pada Rabu (18/2 ), sesaat setelah pelaksanaan serah terima jabatan (Sertijab) pada pagi harinya.

 

Rapat Kerja perdana tersebut diadakan dalam rangka menyampaikan arah kebijakan serta penegasan program dan kegiatan Dinas Komunikasi dan Informatika ke depan. 

Dalam Arahnya, Plt. Kadis Kominfo menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antar bidang guna mendukung pencapaian target kinerja dinas secara optimal. 

Jika saya analogikan, yang relevan dengan perkembangan teknologi saat ini, dengan mengibaratkan seluruh ASN sebagai para Artificial Intelligence (AI) yang memiliki kapasitas dan potensi besar, sementara pimpinan berperan memberikan arah dan panduan kerja,” kata Taufik di Aula Tansi Ampek  Kantor Bupati, Rabu (18/02) siang.

 

Analogi tersebut disampaikan untuk menekankan pentingnya keselarasan peran, pemahaman tugas, serta koordinasi yang efektif dalam menghasilkan kinerja yang maksimal.

Selaku Kadis, Taufik mengajak seluruh ASN untuk bekerja secara terpadu dan saling mendukung sebagai satu kesatuan tim. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan program sangat ditentukan oleh soliditas, koordinasi, serta komitmen bersama dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing.

 

Pada kesempatan tersebut, para Kepala Bidang (Kabid) memaparkan kemajuan kegiatan yang sedang berjalan serta rencana kerja di masing-masing bidang pada tahun anggaran 2026. 

 

Langkah ini dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh terkait kondisi internal organisasi sebagai dasar dalam menyusun langkah strategi selanjutnya.

Selain itu, ia juga menegaskan komitmennya untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informatika yang berlangsung sangat cepat. Seluruh ASN diharapkan senantiasa meningkatkan kapasitas, kompetensi, serta profesionalisme dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas. (DT) 

kabupaten Solok (Rangkiangnagari)Bupati Solok DR (HC) Jon Firman Pandu, SH menghadiri Rapat Paripurna dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke-77 Kabupaten Sijunjung, yang dilaksanakan pada Rabu (18/02) di Gedung Pertemuan DPRD Kabupaten Sijunjung.

‎Kehadiran Bupati Solok dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan dan sinergi antar pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan wilayah di Sumatera Barat, khususnya antara Kabupaten Solok dan Kabupaten Sijunjung.

‎Turut hadir bersama Bupati Solok dalam kegiatan tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Solok Ivoni Munir, Asisten II Setda Kabupaten Solok Jefrizal, Kasatpol PP dan Damkar Asril, Kalaksa BPBD Khairul, serta Kabag Pembangunan Setda Kabupaten Solok Afrianto.

‎Rapat paripurna tersebut juga menghadirkan sejumlah pejabat dan tamu undangan penting, antara lain Menteri Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia yang diwakili oleh Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, serta Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah.

‎Peringatan HUT Kabupaten Sijunjung ke-77 tahun ini mengangkat tema “Berkolaborasi Membangun, Wujudkan Sijunjung Idaman”, yang menekankan pentingnya sinergi seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat dalam mendukung percepatan pembangunan daerah.

‎Dalam kesempatan tersebut, Bupati Solok menyampaikan ucapan selamat sekaligus doa terbaik bagi kemajuan Kabupaten Sijunjung.

‎“Doakan kita dalam Dirgahayu yang ke-77 Kabupaten Sijunjung menjadi lebih baik dan semakin optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat Sijunjung,” ujar Bupati.

‎Melalui momentum peringatan hari jadi ini, diharapkan hubungan kerja sama antar daerah semakin erat guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat di Sumatera Barat.(Lz)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.