Padang Pariaman (Rangkiangnagari) – Ratusan hektar sawah di Nagari Parik Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, kini berubah menjadi lautan pasir dan lumpur. Dampak buruk ini terjadi akibat aliran Sungai Batang Tapakih yang semakin dangkal, yang menyebabkan air melimpah ke area persawahan setiap kali hujan deras. Pembangunan jalan tol yang melintasi daerah tersebut diduga menjadi penyebab utama terjadinya sedimentasi dan penumpukan pasir di sawah.
Para petani setempat, yang tergabung dalam Kelompok Tani Binuang Jaya, sebelumnya telah berupaya mengatasi masalah ini dengan menyewa alat berat untuk menggali dan memperbaiki saluran air dengan dana swadaya. Namun, usaha tersebut tidak bertahan lama. Setiap kali hujan turun, air dari sungai melimpah dan menggenangi sawah, membawa serta lumpur dan pasir yang semakin menumpuk, menyebabkan lahan pertanian menjadi tandus. Bahkan, 20 hektar sawah di bawah jembatan yang sebelumnya dangkal kini berubah menjadi lautan pasir yang sulit diolah kembali.
Ketua Kelompok Tani Binuang Jaya, Juni Andri, menyampaikan keprihatinannya. “Kami berharap pemerintah daerah segera bertindak untuk mengatasi masalah ini. Sawah kami sudah tidak bisa ditanami lagi, dan petani gagal panen. Kami sudah mengirimkan surat kepada pihak terkait, namun belum ada respons yang serius,” ujarnya saat ditemui awak media di lokasi persawahan, Minggu (16/2).
Anggota DPRD Padang Pariaman Dapil I dari Fraksi PAN, Alam Syari, yang juga tokoh masyarakat setempat, juga menyuarakan keprihatinannya. Ia meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk segera turun tangan. “Sudah lebih dari lima musim panen kami gagal. Masyarakat sangat dirugikan, dan kami sudah beberapa kali menyuarakan hal ini. Namun, sampai sekarang belum ada solusi konkret dari pemerintah. Kami berharap pihak balai yang memiliki wewenang dapat segera menangani masalah ini,” katanya.
Pihak pemerintah daerah, melalui penyuluh pertanian dan dinas terkait, sudah beberapa kali melakukan survei lapangan. Namun, surat yang dikirimkan oleh Wali Nagari setempat ke Balai Sungai, yang berwenang menangani masalah ini, belum mendapat tanggapan. “Kami sudah mengupayakan segala cara, termasuk dengan menyewa alat berat seharga Rp50 juta, namun hasilnya sia-sia karena hanya bertahan sementara. Begitu hujan datang, sawah kami kembali tertimbun pasir dan lumpur,” ungkap Alam Syari.
Kondisi ini semakin parah dengan terjadinya banjir yang membawa material pasir ke sawah, membuat petani semakin terpuruk. “Setiap kali siap untuk panen, sawah kami hanyut terbawa air. Ini sudah sering kami alami,” tambah Alam Syari.
Para petani dan masyarakat setempat berharap agar pemerintah segera memberikan solusi yang tuntas untuk mengatasi masalah ini, agar lahan pertanian yang telah menjadi sumber penghidupan mereka dapat kembali produktif.(Kk)